SEKSISME PEREMPUAN PADA IKLAN SUNLIGHT DI TELEVISI
Sebagai
sebuah media promosi, iklan seolah menjanjikan kepuasan tersendiri bagi para
penikmatnya, menjanjikan keamanan dari rasa takut, dan mendekatkan constumer
pada idolanya.Budaya Patrilineal yang selama ini berkembang di
masyarakat akhirnya membagi gender secara diskriminatif dan struktural, hal ini
mengakibatkan perempuan hanya di tempatkan pada kelompok masyarakat nomor
dua.Gambaran akan perempuan yang sering di tempatkan di nomor dua tidak hanya
dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari saja. Namun, hal ini juga tampak
pada seni, seperti iklan-iklan yang sering muncul di televisi.
Disadari atau tidak banyak iklan yang
mulai menyihir kesadaran kita untuk mengikuti apa yang ditawarkan. Banyak iklan-iklan yang muncul di televisi dengan menawarkan berbagai
produk yang mereka punya, salah satu nya iklan cairan pencuci piring yang dibawakan
oleh artis ternama yaitu Raffi Ahmad. Di iklan tersebut nampak Raffi Ahmad
sedang membawa acara seperti perlombaan cuci piring untuk membandingkan produk
sunlight dengan produk merek lain, tak lupa juga di iklan tersebut banyak
perempuan yang diikutsertakan dalam
ajang lomba mencuci piring itu,yang kebanyakan merupakan seorang ibu rumah
tangga.
Dari adegan singkat tersebut kami
mencoba menghubungkanya dengan rutinitas peran ibu rumah tangga dengan produk
tersebut. Yaitu ketika iklan tersebut menampilkan para perempuan yang ikut
serta dalam lomba mencuci piring tadi dalam rangka membandingkan produk sunlight
dengan produk merek lain. Di situ terlihat jelas bahwa iklan tersebut mengambil
persfektif gender dalam interaksi sebuah Rumah Tangga. Perempuan dalam hal ini
dijadikan sarana untuk mengindentifikasikan produk. Dalam menawarkan produk
tersebut perempuan tidak sekedar menampilkan fungsi serta kelebihan produk
sunlight tadi, tapi tanpa disadari mereka juga menampilkan realitas kehidupan
nyata perempuan dalam keluarga yaitu lekat dengan persoalan dapur,sumur dan
kasur yang seolah-olah dapat diterima oleh masyarakat atau penikmat iklan ini
tadi.
Iklan ini merefleksikan bahwa
perempuan itu bertanggung jawab atas
kebersihan peralatan dapur . secara sekilas, representasi tersebut terlihat
lumrah pandangan ini lalu di konsepsikan pada fenomena rumah tangga,yang banyak
terjadi di masyarakat indonesia, yaitu sistem patriarki yang masih dipegang
teguh oleh masyarakat indonesia. Dimana perempuan sebagai ibu rumah tangga yang
bertanggung jawab terhadap kebersihan
peralatan dapur, sementara laki-laki dianggap sebagai pemimpin keluarga yang
hanya bekerja mencari uang dan tidak mau tahu urusan dalam hal dapur dan sumur.
Hal ini jelas membuat perempuan tersubordinasikan. Fenomena yang demikian
merupakan fenomena yang biasa bagi para perancang iklan dan penonton.
Sesungguhnya, dalam representasi iklan ini terdapat pemahaman yang mempunyai
persfektif gender. Permasalahan yang menjadi wacana gender ini mulai timbul dalam iklan ketika keindahan
digunakan untuk menggambarkan sebuah citra komoditas, menyinggung bias gender di dalamnya.
Jika kita melihat dari
pendekatan teori struktural konflik,
dalam konteks konflik perempuan dalam iklan adalah sebuah model eksploitasi dan
diskriminasi. Menurut Ritzer masyarakat senantiasa berada dalam proses
perubahan yang ditandai oleh pertentangan yang terus menerus diantara
unsur-unsurnya. Teori konflik melihat bahwa setiap elemen atau setiap institusi
memberikan sumbangan terhadap disintegrasi sosial, dan melihat keteraturan
sosial yang terdapat dalam masyarakat itu hanya disebabkan karena adanya
tekanan atau pemaksaan kekuasaan dari atas oleh golongan yang berkuasa Sejalan
dengan pendapat Dahrendorf, Marx mengatakan bahwa masyarakat terpolarisasi
dalam dua kelas yang selalu bertentangan, yaitu kelas yang mengeksploitasi dan
kelas yang dieksploitasi. Dalam hal iklan tadi pemilik iklan (golongan yang berkuasa) akan
merancang iklan mereka sedemikian rupa sesuai sasaran penjualan produk mereka
yang kebanyakan adalah para perempuan (kelompok yang di eksploitasi). Seperti
contoh diatas tadi mereka mengikutsertakan perempuan dalam lomba mencuci piring
dengan mengunakan sunlight karena mereka tahu perempuan itu lebih sering
melakukan kegiatan dapur seperti mencuci piring, dll . dibandingkan dengan laki-laki. Masyarakat berkembang dan
selalu mengalami perubahan. Hal itu dapat dilihat ketika masyarakat (penonton
iklan sunlight ) merasa tertarik dan penasaran terhadap produk tersebut yang
katanya dalam iklan tersebut bisa membersihkan lebih dari 25000 piring kotor.
Sehingga iklan tersebut mampu menarik minat masyarakat untuk membeli. Menurut
Ritzer, Dalam hal ini perempuanlah yang menjadi pihak yang dieksploitasi dan
mendapat diskriminasi baik secara fisik maupun dalam stereotipe(cap) di
masyarakat. Seringkali Perempuan di cap sebagai lemah lembut, tidak rasional
sehingga membuat masyarakat berpandangan bahwa perempuan itu tidak cocok
bekerja disektor publik. Mereka hanya bisa bekerja di sektor domestik saja.
sementara pada laki-laki mereka tentunya diberi kebebasan untuk bekerja ,karna
banyak masyarakat berpendapat bahwa laki-laki adalah seorang pemimpin dalam
rumah tangga sehingga jika mereka tidak bekerja tentunya akan sangat
dipertanyakan dalam masyarakat. Dalam
penyampaian pesannya, iklan selalu menyesuaikan dengan kondisi sosial-budaya
dalam masyarakat yang akan mereka jadikan target tujuan. Dengan kondisi sosial
masyarakat yang selalu menempatkan sosok pria salaku sosok primer dan perempuan
sebagai sosok sekunder. Dengan adanya hal ini membuat kaum perempuan akan
merasa tersubordinasikan terutama di bidang pekerjaan.
Perempuan telah menjadi bisnis bagi
para laki-laki, sebab yang menguasai perekonomian akhirnya juga laki-laki. Akan
tetapi para perempuan ini tidak pernah merasa telah melakukan dosa terhadap
sesamanya. Hal ini dimungkinkan karena para perempuan sudah terbiasa
dieksploitasi, perempuan merasa baik-baik saja dengan keadaan di dunia yang
sebenarnya tidak memberikan kebebasan lebih besar dibanding peran-peran
domestik.. Eksploitasi kapitalisme atas perempuan tidak pernah memunculkan
gelombang protes ataupun pemberontakan yang cukup berarti, tidak terjadi
revolusi radikal. Kebudayaan massa telah mengobsesi perempuan tentang dunia
baru yang serba instant dan spontan. Perempuan sangat memimpikan pekerjaan
diluar rumah. Namun , ternyata
keterlibatan publik diasumsikan dengan konotasi yang tidak tepat.
Disadari atau tidak, begitu banyak
kode-kode sosial yang tersembunyi dari iklan yang menunjukkan adanya ketidakadilan
dalam gender, dalam hal ini perempuanlah yang dirasa mendapat perlakukan yang
tidak baik. Perempuan tersebut terkesan
sebagai seorang yang harus bekerja dalam ranah pekerjaan domestik saja.
Stereotip dalam budaya Jawa juga semakin mengukuhkan akan kebenaran peran
perempuan yang seperti itu yaitu dalam lingkup sumur, dapur dan kasur. Hal ini sangat membuat posisi kaum
perempuan semakin tersudut
Pencitraan perempuan yang identik
dengan urusan pakaian keluarga, masalah dapur, anak, dan tugas rumah tangga
lainnya sudah menjadi lumrah dalam masyarakat sekarang, kurangnya kepekaan akan
konsep gender yang sesungguhnya membuat stereotip yang terlanjur sudah sulit
untuk dirubah. Keterlibatan perempuan dalam iklan merupakan fenomena yang cukup
menarik bagi kami, sebab keduanya saling berkait dan sebagai sebuah realitas
baru dalam dunia produksi. Akan tetapi yang menjadi masalah mendasar adalah
bagaimana para perempuan ini mampu mengurai sistem penindasan yang saat ini
lebih bersifat nalar dan sangat sulit untuk dideteksi. Untuk itu diperlukan
pembelajaran lebih lanjut bagi perempuan agar dapat melakukan pemikiran ulang atas
apa yang mereka lakukan ketika berhubungan langsung dengan budaya media massa.
created by : Tri Rahmadani
note : ini hanya sekedar tugas kuliah, jadi siapa aja yang mau ngopi harus cantumkan sumber yah :)
terutama anak sosiologi pada mata kuliah tertentu. makasih..
note : ini hanya sekedar tugas kuliah, jadi siapa aja yang mau ngopi harus cantumkan sumber yah :)
terutama anak sosiologi pada mata kuliah tertentu. makasih..
Komentar
Posting Komentar